www.AlvinAdam.com

Majalah Peluang Bisnis

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Proyeksi 2018: Saham Kecil dan Menengah Berpotensi Membaik

Posted by On 6:44 PM

Proyeksi 2018: Saham Kecil dan Menengah Berpotensi Membaik

Pengunjung beraktivitas di dekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (22/11). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Kinerja saham emiten-emiten berkapitalisasi pasar kecil dan menengah berpotensi tumbuh lebih tinggi tahun ini seiring estimasi kinerja perekonomian yang lebih baik.

Sepanjang 2017, kinerja emiten-emiten berkapitalisasi pasar kecil menengah tidak terlalu gemilang dibandingkan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kinerja indeks IDX Small-Medium Cap (SMC) Composite sepanjang 2017 hanya tumbuh 6,82%, underperform terhadap IHSG yang tumbuh 19,99%.

IDX SMC Composite merupakan indeks yang menghitung rata-rata harga da ri 313 emiten berkapitalisasi pasar kecil-menengah di Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks ini baru diluncurkan BEI akhir Desember 2017.

Sementara itu, kinerja indeks IDX SMC Likuid, yang merupakan gabungan 50 emiten pilihan paling likuid dari IDX SMC Composite justru mencatatkan return negatif, yakni turun 0,87% sepanjang 2017. Kinerjanya jelas jauh lebih rendah dibandingkan indeks LQ45 yang return-nya mencapai 22,02% sepanjang 2017.

Alfred Nainggolan, Kepala Riset Koneksi Capital, mengatakan bahwa ada kecenderungan ketika pasar masih penuh ketidakpastian, investor cenderung memburu saham-saham first liner atau saham-saham berkapitalisasi pasar besar. Sejak awal 2017, pasar cenderung waspada terhadap kemungkinan-kemungkinan yang tidak pasti terkait perekonomian global, terutama didorong kekhawatiran terhadap peningkatan suku bunga The Fed dan era pengetatan moneter dunia.

Adanya peningkatan peringkat surat utang pemerintah Indonesia ke lev el layak investasi oleh Standard & Poor’s lantas menggairahkan investasi. Namun, saham-saham yang diburu lebih banyak saham-saham big cap yang pengaruhnya besar terhadap pertumbuhan IHSG.

“Ketika 2018 nanti ekonominya membaik, semua semakin positif, di situ orang mulai mengarahkan perhatian ke saham lapis dua dan tiga. Ketika investor sudah merasa sangat yakin, toleransi mereka terhadap saham-saham beresiko yang melekat pada second and third liner akan berkurang,” ungkapnya, Minggu (31/12/2017).

Harapan membaiknya perekonomian Indonesia tahun ini setidaknya terungkap dalam asumsi-asumsi makroekonomi Indonesia dalam APBN 2018. Selain itu, pada akhir 2017 lembaga rating Fitch telah menaikkan peringkat Indonesia dari BBB- menjadi BBB.

Namun, tidak tertutup kemungkinan adanya kondisi-kondisi yang berdampak sebaliknya. Bila demikian, bukan mustahil saham-saham big cap masih akan jadi primadona.

Kecenderungan ini terjadi lantara n profil investor Indonesia masih didominasi investor institusi. Kelompok ini cenderung mencari emiten-emiten besar yang cukup likuid sebagai tujuan penempatan investasinya untuk jangka waktu panjang.

Ketika investor institusi membeli saham-saham besar dan menahannya, terjadi kekurangan pasokan di pasar sehingga cenderung mendorong harga semakin tinggi.

Di sisi lain, emiten berkapitalisasi pasar kecil menengah cenderung banyak ditransaksikan investor ritel dengan horizon investasi jangka pendek. Investor institusi masih cenderung menghindari emiten-emiten ini karena kekhawatiran terhadap resiko investasinya.

“Kalau mengharapkan ritel saja, volatilitas harganya besar dan ruang pertumbuhan returnnya pasti tidak sebesar saham-saham first liner. Itu jadi sumber utama mengapa saham lapis dua dan tiga kinerjanya tidak sebagus first liner, meskipun valuasi dan kinerjanya bagus,” ungkapnya.

Kiswoyo Adi Joe, Analis Recapital Security, mengatakan kinerja saham emiten kecil menengah tahun ini akan sangat bergantung pada perbaikan kinerja di perusahaan-perusahaan tersebut. Berbeda dibandingkan emiten besar dengan bisnis yang relatif stabil, emiten ini sangat rentan terhadap dinamika ekonomi dan bisnis sektoralnya.

“Saham-saham perbankan big cap bisa menjadi saham likuid itu karena pertumbuhan laba bersihnya lebih dari 10% per tahun dan itu sudah bertahun-tahun terjadi. Menjaga pertumbuhan yang konsisten itu yang berat bagi emiten kecil menengah,” ungkapnya.

Tag : rekomendasi saham Editor : Annisa MargritSumber: Google News Bisnis Indonesia

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »