Peluang Bisnis

Gen Milenial Juga Investasi Saham Loh


Generasi milenial kerap mendapat "stigma" boros karena tidak bisa mengelola keuangannya dengan baik. Mereka ini kerap pula dicap sebagai generasi besar pasak daripada tiang. Pemasukan mereka lebih kurus ketimbang pengeluaran.

Dikutip dari The New York Times, Pew Research Center pada awal 2018 merilis definisi baru generasi milenial. Generasi milenial dalam definisi ini memiliki rentang waktu yang sedikit lebih pendek. Ukuran baru menyatakan mereka yang terlahir antara tahun 1981 sampai 1996 adalah generasi milenial. Selama ini United States Census Bureau menetapkan rentang generasi milenial adalah mereka yang lahir antara tahun 1982 sampai 2000.
Generasi Y, begitu istilah lainnya yang melekat pada mereka, demennya mengeluarkan uang untuk belanja online, jalan-jalan, makan di luar, ngopi dan update gadget.
Tapi benarkah mereka itu seperti ini? Benarkah mereka ini boros sehingga tidak bisa menabung atau berinvestasi?
Hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh The Harris Poll menemukan bahwa 92 persen orang muda berusia 21 hingga 37 tahun tenryata telah menabung. Sayangnya, hanya sepertiganya yang telah melakukan investasi di luar rencana pensiun yang dipersiapkan.
Temuan pada milenial ini tentu saja berbanding terbalik dengan generasi sebelumnya atau yang kerap disebut Gen-X. Sekitar separuh dari Gen-X telah memiliki investasi di luar dana pensiun.
Penyebab utama keengganan milenial dalam investasi tak lain dan tak bukan anggapan kalau investasi itu sesuatu yang sulit. Mereka merasa tidak tahu cara melakukan investasi. The Harris Poll menemukan sekitar 30 persen dari milenial saat ini tidak tahu cara berinvestasi di luar rencana investasi.
Sementara itu dari sisi gender, ternyata milenial perempuan yang memiliki investasi hanya di angka 26 persen, sementara 40 persen laki-laki milenial berinvestasi di luar rutinitas pekerjaan. Dengan kata lain, laki-laki milenial lebih demen dengan investasi.
Temuan The Harris Poll ini ternyata sejalan dengan survei yang dilakukan The Indonesia Capital Market Institute (TICMI) baru-baru ini terhadap kalangan milenial pada 25 April 2018 lalu.
TICMI menemukan kalau sebagian besar generasi milenial telah melakukan pengelolaan keuangan. Dari 168 responden, sebanyak 61,76% telah menerapkan pengelolaan keuangan dengan investasi.
Uniknya, pilihan investasi para milenial itu 54,41% di pasar modal, sisanya di produk perbankan dan sektor riil. Dari 54,41% tersebut mayoritas pilihan produk investasi milenial di saham (80,88%) disusul reksadana (16,18%), obligasi (1,47%) dan lainnya 1,47%.
Dari survei yang sama ditemukan kalau sebanyak 39,70% generasi milenial melakukan investasi untuk membeli berbagai keperluan seperti rumah, kendaraan dan biaya pendidikan. Sementara itu, sebanyak 35,30%-nya menjadikan investasi sebagai dana darurat dan 25% untuk mempersiapkan dana pensiun di hari tua nanti.
Temuan ini tentu sejalan dengan data yang dirilis PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang mencatat jumlah investor di pasar modal berdasarkan data Single Investor Identification (SID) meningkat drastis. Di ulang tahunnya yang ke-20, KSEI mencatat pengguna KSEI sudah lebih dari 1,1 juta. Jumlah investor itu berdasarkan perhitungan dari sistem C-BEST, SBN, EBAE dan S-INVEST. Dengan keempat sistem itu seluruh investor mulai dari saham, reksadana, hingga SBN bisa terdata. Berdasarkan data terkini, meski 76% investor masih di Pulau Jawa. Dengan kata lain, masyarakat di daerah sebenarnya sudah tersentuh investasi pasar modal.
Temuan menggembirakan KSEI yaitu kebanyakan investor pasar modal kini didominasi anak muda. KSEI mencatat untuk investor usia 21-30 tahun sebanyak 26,24%, usia 31-40 tahun sebanyak 25,12%, usia 41-50 tahun sebanyak 23,02%, usia 51-60 tahun sebanyak 13,95%, usia 61-70 tahun sebanyak 5,81%, usia 71-80 tahun sebanyak 1,71% dan sisanya di atas 80 tahun.
Korelasi data-data di atas adalah geliat anak muda, terlebih generasi milenial, yang senyatanya sudah melirik investasi, khususnya investasi saham di pasar modal. Milenial tertarik dengan pasar modal, khususnya investasi saham karena pudarnya mindset kalau investasi saham itu sulit.
Milenial menemukan dan membuktikan kalau investasi saham itu kini tak sesulit dan serumit yang dibayangkan, salah satunya berkat masifnya kampanye "nabung saham" yang dihelat BEI bekerjasama dengan sejumlah sekurotas.
Lebih dari itu, mileniak menemukan fakta kalau investasi saham kini benar-benar gampang dan mudah karena sudah dilakukan secara online. Inovasi demi inovasi telah dilakukan agar masyarakat, terlebih milenial, gampang mengakses saham dengan gadget di genggaman tangan. Maklum, perilaku milenial terkait gadget memang istimewa, dimana gadget tak bisa dilepaskan aktivitas mereka sekecil apapun.
Salah satu inovasi yang dilakukan sekuritas ternama di Indonesia yaitu PT Indo Premier Sekuritas: mendekatkan saham dengan platform yang dekat dengan milenial, dimana investasi atau yang kini kerap disebut nabung saham, bisa diakses mudah dengan gadget yang dimiliki.
Platform modern IPOTSTOCK yang menyediakan kenyamanan nabung saham online dengan teknologi tools untuk mengatur return (imbal hasil) terbaik menjadi peluang besar bagi para ibu rumah tangga untuk menambah penghasilan keluarga.
Dukungan fitur, tools analisis, distribusi berita dan informasi riset secara berkala dan komprehensif akan memudahkan milenial mendapatkan cuan yang maksimal. Apalagi, platform ini sangat mudah dalam penggunaannya.
Pelatihan gratis yang ditawarkan IndoPremier pun bisa dimanfaat milenial di berbagai penjuru tanah air untuk mahir dan makin profesional dalam nabung saham.
Sumber: Kumparan

Tidak ada komentar