Peluang Bisnis

Saham pilihan analis Semesta Indovest


Analis Semesta Indovest Aditya Perdana mengatakan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) loyo karena masih disebabkan oleh kondisi eksternal yang mempengaruhi domestik, mulai dari perang dagang dan kenaikan suku bunga The Fed.
"Ini yang menyebabkan rupiah kembali melemah dan mengakibatkan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan-nya, hal ini juga menambah pertanyaan akan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depannya di tengah pertumbuhan investasi yang terancam," katanya, Selasa (3/7).

Aditya bilang tidak ada yang dapat memastikan, justru perang dagang akan memantik perlambatan ekonomi global yang tentu akan merugikan seluruh negara tidak terkecuali Indonesia.

Ia juga bilang, saat ini IHSG sudah terbuka ke level 5,570, di mana level selanjutnya yang akan kembali dituju oleh IHSG jika tertembus di sekitar 5,390.

Maka, ia menyarankan agar investor mesti memperhatikan tekanan jual yang masih cukup masif dan situasi saat ini yang masih memancing risiko margin call dan force sell. "Investor juga perlu memperhatikan money management dan sebaiknya wait and see dulu menunggu support kuat IHSG dan ada katalis yang positif di domestik dan global," lanjutnya.

Aditya juga meramalkan bahwa IHSG bisa berpeluang naik di kuartal II tahun ini tergantung pada data pertumbuhan PDB dan hasil earning kuartal II.

"Ini sentimen domestik yang akan membuat rupiah lebih stabil dan agresivitas fed rate berkurang dan trade war tidak ada, market lebih kondusif. Jika data-data tersebut kurang baik maka potensi pelemahan IHSG bisa berlanjut," jelasnya.

Aditya juga merekomendasikan sejumlah saham yang akan mendapat sentimen positif dari dampak perang dagang seperti PTBA, ADRO, HRUM, SRIL, BBCA, MEDC, ANTM, PSAB dan INCO.

Mengenai dampak perang dagang terhadap batubara, Aditya bilang Indonesia bisa mengambil keuntungan.

"China dan AS sebagai negara produsen terbesar coal. Jika supply coal dunia tidak ada penurunan maka tentu akan menguntungkan Indonesia, karena yang tadinya China dan AS saling impor. Maka terbuka peluang mereka mengimpor dari Indonesia. Hal ini juga berlaku untuk produk lainnya, jadi ada peluang Indonesia dijadikan sebagai basis impor oleh negara-negara tersebut, dan Indonesia mendapatkan keuntungan dari ekspor yang meningkat," imbuhnya.
Sumber: Kontan

Tidak ada komentar