GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

Classic Header

{fbt_classic_header}

Top Ad

Peluang Bisnis:

latest

Growing Together with Clients

Tak dapat dipungkiri Usaha Kecil Menengah (UKM) merupakan salah satu sektor pendorong perekonomian yang tangguh. Tak heran kini UKM mendapat perhatian baik dari pihak perbankan, nasabah maupun pemerintah.  Hal tersebut terlihat d…

Growing Together with Clients
Tak dapat dipungkiri Usaha Kecil Menengah (UKM) merupakan salah satu sektor pendorong perekonomian yang tangguh. Tak heran kini UKM mendapat perhatian baik dari pihak perbankan, nasabah maupun pemerintah.  Hal tersebut terlihat dari usaha pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dalam meringankan persyaratan perbankan mengenai penyaluran Kredit untuk Usaha Menengah, Kecil dan Mikro (UMKM). Aturan pertama yang disepakati adalah pemberian kredit UMKM dilihat dari pilar kemampuan membayar. Sehingga pilar untuk prospek tidak menjadi prioritas utama. Kedua, peningkatan plafon kredit UMKM menjadi Rp 20 miliar sesuai dengan resiko managemen bank itu sendiri. Sedangkan untuk nasabah tingkat plafon meningkat menjadi Rp 10 miliar. Ketiga, memberi kesempatan kepada perusahaan yang dianggap memiliki masalah dalam kreditnya untuk mendapatkan kredit kembali. Dan terakhir, melepaskan sejauh mungkin keterkaitan kredit. Dalam hal ini, yang menjadi pertimbangan adalah kemampuan membayar dan prospek industri dari perusahaan tersebut. Menanggapi syarat kredit tersebut, wartawan Majalah Pengusaha, Rian Sudiarto, Fisamawati dan fotografer Edi fritson, mewancara Direktur Kredit UKM, BRI Sulaiman Arif Arianto.  Pagi, diruang kierjanya nan luas, pria ramah ini menjelaskan tentang kucuran kredit ke UKM.  

Bagaimana pihak BRI dengan adanya kebijakan Pemerintah dalam penyaluran kredit Usaha Menengah, Kecil dan Mikro? 

Ya, kami jelas mendukung hal tersebut. Namun perlu diketahui bahwa kami tetap memiliki  prosedur perbankan yang harus tetap dipatuhi. Uang yang kami keluarkan dan dipinjamkan bukan milik kami. Ada  pihak ketiga yang memberikan. Dan untuk itu tidak gratis begitu saja. Sehingga harus diteliti dalam memberikan pinjaman untuk pihak mana pun. Jika  memberi kredit  ngawur maka bisa-bisa kami masuk lagi ke rekapitulasi bank pada waktu lalu. 

Kriteria apa saja yang menjadi penilaian dalam mencairkan pinjaman yang diajukan, khususnya ke UMKM ? 

Orang atau perusahaan tersebut harus mempunyai nilai produksi dan mampu menjual. Dalam perbankan sendiri ada istilah yang disebut kode prosedur banking prinsiple. Artinya orang atau perusahaan itu harus bankable sehingga mampu memproduksi. Sebagai jembatan penghubung antara pemerintah dan masyarakat,  dalam memberikan kredit, kami tidak memiliki persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan. Seperti prospek usaha yang cerah dan mampu memproduksi baik dari pengeluaran pribadi dan bisnis yang dijalankan. 

Berapa besar kredit  yang  akan dikucurkan pada tahun ini ? 
Jika mengacu pada prinsip yang dipegang maka jumlah dana yang dikeluarkan untuk peminjaman adalah tanpa batas. Asalkan, dana yang dipinjamkan dapat dikembalikan oleh si peminjam sesuai dengan ketentuan awalnya. Dari jumlah simpanan BRI saat ini dapat dikeluarkan 10 kali lipat untuk pinjaman yang diajukan.  Total tahun ini naik 20%. Bila tahun lalu sekitar Rp 92 triliun, 87% nya untuk kredit UKM, sisanya korporat.  

Kok angka yang cukup konservatif, mengingat tahun-tahun sebelumnya, kenaikan pertumbuhan kredit  juga berkisar di angka tersebut ? 

Begini. Kami tidak bisa menggenjot pertumbuhan secara kuantitatif. Terus terang, kami tidak bisa memberikan pinjaman kepada pihak yang ingin membentuk UKM (Usaha Kecil Menengah) yang dalam tahap riset atau usaha baru.  Mungkin saja, UKM berdasarkan riset tersebut tepat secara teori tetapi ini tidak berlaku untuk bank. Bank menginginkan ada produksi riil. Kemudian dari hasil produksi tersebut memiliki daya jual. Sehingga diharapkan dari itu semua mampu menutupi dana pinjaman dan biaya produksinya.  Contohnya, ketika pihak tertentu ingin meminjam dana untuk mengembangkan usaha gula dengan menggunakan bahan yang berasal dari bunga-bunga jenis tertentu. Jelas  pihak bank tidak akan menyetujui karena usaha gula tersebut belum ada bukti produksi yang menjual nantinya. 

Selama ini, masalah collateral menjadi salah satu  penghambat bagi UMKM untuk memperoleh kredit. Benarkah ?  

Masalah jaminan, dalam arti yang sebenarnya tidak ada yang memberatkan. Hanya terkadang terjadi mispersepsi tentang jaminan yang dimaksud. Seperti contoh, umumnya pebisnis UKM berusaha di rumah (home industri) dimana rumah pribadi si peminjam dijadikan tempat usaha. Maka pihak bank meminta jaminan rumah. Jaminan rumah tersebut bukan berdasarkan aspek aset pribadi melainkan aset usahanya. Ini berbeda dengan perusahaan terbatas (PT), dimana aset pribadi dan aset persahaan terpisah maka aset usanyalah yang menjadi jaminan untuk mencairkan dana peminjaman yang diajukan. Disamping memberikan kredit, kami juga beroperan sebagai  pendamping atau penasihat usaha. BRI pun memberikan teknik management yang tepat dalam mengelola dana yang dipinjam sehingga tercapai success programe. 

Untuk mendukung UMKM, pemerintah kini membentuk semacam bantuan lembaga bantuan layanan usaha, yang dikelola oleh Departemen Teknis. Lalu bagaimana dengan BRI sendiri? Apakah adanya lembaga ini merasa diuntungkan ?  

Lembaga itu dibentuk lantaran pemerintah memang ingin membantu para pebisnis UMKM, selain lewat kredit juga bantuan teknis dengan membentuk  BLU (Bantuan Layanan Usaha). Pemerintah memberikan keringanan dengan adanya subsidi yang dikeluarkan seperti keringanan suku bunga. Bank akan melihat sebatas persyaratan dan ketentuan yang berlaku dalam bank itu sendiri terlepas dari faktor mampu atau tidaknya mereaka membayar pinjaman tersebut. Oleh karena itu pemerintah memiliki peranan yang sangat mendukung dalam perkembangan UKM di Indonesia. Fungsi dari BLU sendiri adalah membantu UMKM  yang belum berkembang dengan cara membantu produksi usaha. Kemudian lembaga-lembaga tersebut membantu UKM yang belum bankable dalam bentuk teknisnya. Karena pada umumnya, bank tidak bisa mencairkan dana pinjaman kepada UKM yang belum terbukti hasil produksinya mampu menutupi dana yang nantinya akan dikeluarkan. Sekarang ini, pemerintah membentuk departement-departement yang membantu UKM tersebut untuk menghasilkan produksi. Bantuan yang ditawarkan biasanya berupa technical local. Dengan adanya kemampuan technical local tersebut menjadi landasan pengalaman tadi. 

Siapa yang bertanggung jawab atas peminjaman yang dikelola oleh departement tersebut? 

Tentu saja menjadi tanggung jawab pemerintah. Bank hanya memberikan kemudahan untuk bobot resiko agar lebih rendah. 

Kalau terjadi masalah, langkah apa yang diambil BRI?  

Bila terjadi masalah antara bank dan nasabah maka masalah tersebut didiskusikan dengan “duduk” bersama. Diskusi dilakukan untuk menelaah sampai sejauhmana permasalahan tersebut dan  mencari solusi yang tepat antara kedua belah pihak Ada delapan cara yang biasanya dilakukan BRI antara lain, meringankan suku bunga, meringankan suku bunga yang tertunggak, meringankan finalty bunga pokok yang tertunda, memberikan dana tambahan kredit khusus dan lainnya. 

Tidak Write off ?  

Ya, bisa saja, kalau terjadi factor bencana alam. Bencana alam pun diklasifikasikan menjadi beberapa sub lagi. Jika terjadi bencana alam seperti Tsunami di Aceh maka BRI bisa melakukan write off. 

Sekarang banyak bank-bank yang mulai melirik sector UMKM. Selain bank BUMN, bank swasta dan swasta asing pun mulai mengucurkan kreditnya ke sector ini. Apa saja yang dilakukan BRI menghadapi persaingan ini?  

Begini. Pertama, BRI sudah memiliki posisi besar di pasar perbankan. Kedua, BRI mempunyai market sendiri. Ketiga, target market yang dituju BRI adalah pedesaan. Keempat, memiliki produk-produk sendiri yang berbeda dengan yang lain. Kelima, melakukan pendekatan personal (personal approach) sehingga diharapkan kedekatan memberikan loyalitas antara kedua pihak. Pendeknya, kami tetap optimistis dalam menghadapi tingkat persaingan antar perbankan khususnya di Indonesia. Saat ini, BRI memiliki 6,4 juta nasabah, dan memiliki ribuan outlet yanjg tersebar di seluruh Indonesia, serta total karyawan yang mencapai 29 ribu orang.   

Tahun ini harapan apa yang ingin dicapai BRI? 
Kami ingin memberikan pelayanan sebaik mungkin kepada nasabah. Oleh karena itu BRI memberikan full banking service yaitu bentuk layanan menyeluruh kepada para nasabahnya. Hingga termemori “Growing Together with clients”.

Tidak ada komentar