GRID_STYLE

Post/Page

Weather Location

Classic Header

{fbt_classic_header}

Top Ad

Peluang Bisnis:

latest

Laris Karena Tuah Pitik Rambut Syetan dan Sambel Iblis

Setelah sukses mengembangkan rumah makan steak Ben Tuman, Ajeng Astri Denaya berhasil mengelola rumah makan Mbah Jingkrak. Keduanya kini dikembangkan dengan model waralaba. 
Jalan-jalan ke kota Semarang, kurang lengkap rasanya bil…

Laris Karena Tuah Pitik Rambut Syetan dan Sambel Iblis
Setelah sukses mengembangkan rumah makan steak Ben Tuman, Ajeng Astri Denaya berhasil mengelola rumah makan Mbah Jingkrak. Keduanya kini dikembangkan dengan model waralaba. 

Jalan-jalan ke kota Semarang, kurang lengkap rasanya bila tidak menikmati pitik rambut syetan atau sambel iblis. Jangan kaget dulu, belakangan menu yang terkesan menyeramkan itu memang sedang popular di ibu kota propinsi Jawa Tengah ini. Untuk mendapatkannya tidak perlu laku ritual, tapi cukup datang ke Rumah Makan Mbah Jingkrak.  

Rumah makan yang berada di kawasan Jl. Taman Beringin tersebut, memang sedang naik daun. Itu karena kepintaran pengelolanya dalam menyajikan menu-menu yang membuat penasaran para pemburu makanan enak.“Selain penasaran dengan nama menu, mereka cocok dengan makanan yang kami sajikan, “ kata Ajeng Astri Denaya, pemilik restoran tersebut. 

Dalam jagad bisnis resto, nama Mbah Jingkrak bisa dibilang pendatang baru. Ia baru muncul setahun belakangan ini. Hebatnya dalam tempo yang terbilang singkat itu, ia telah memiliki pelanggan fanatik. Menariknya, mereka justru berasal dari kalangan menengah ke atas, yang sebenarnya tidak dibidik secara khusus pada awal pendirian rumah makan ini. “Semula kami membidik pasar semua lapisan, tapi ternyata yang muncul justru kalangan menengah ke atas, padahal harga menu kami sangat terjangkau kalangan mana pun,” tutur ibu tiga anak ini. 

Kemunculan rumah makan ini, memang terbilang fenomenal. Ia melesat cepat bak meteor. Maklum dalam waktu yang relatif singkat, telah berhasil menarik hati masyarakat. Tak  mengherankan, bila dalam tempo tidak sampai sebulan pengelola rumah makan ini mengklaim telah berhasil mengembalikan modal yang ditanamkannya. “Kami sangat bersyukur karena tidak genap sebulan, modal yang kami tanam langsung balik,” imbuh Ajeng. 

Menurut pengakuan Ajeng, Mbah Jingkrak baru resmi beroperasi sejak akhir 2005 lalu. Pendirian rumah makan ini, merupakan pengembangan bisnis resto yang telah dijalaninya sejak tahun 1997 silam. Wanita penghobi masak ini, sebelumnya memang telah berhasil mengembangkan  bisnis jasa boga. Ia tercatat sebagai pemilik Warung Steak Ben Tuman, yang berada di Semarang dan kini telah berkembang di Jakarta.. “Setelah warung steak berkembang, saya kok pengin mengembangkan rumah makan dengan menu makanan tradisional,”  ungkapnya. 

Ajeng berterus terang bahwa pendirian rumah makan Mbah Jingkrak terinspirasi dari beberapa warung makan tradisional yang ada di Yogyakarta dan Solo. Dia melihat ada beberapa warung di kedua kota tersebut yang cukup laris walaupun tempat dan cara penyajiannya sangat sederhana. Mereka laris bukan karena tempat tapi karena menu yang disajikan dirasakan cocok bagi kebanyakan orang, termasuk dari kalangan menengah.  

Namun ada sebagian besar kaum berduit yang merasa malu makan di tempat seperti ini, walaupun mereka sebenarnya merasa cocok dengan menu yang disajikan.”Mereka sebenarnya mau, tapi juga malu apalagi yang biasa jaga image atau sok gengsi,” tandas Ajeng. 

Melihat fenomena banyaknya warung makan tradiosional yang cukup laris, Ajeng merasa ada peluang pasar yang bisa diraihnya. Ia tertarik membuat rumah makan dengan menyajikan menu tradisional, tapi disajikan di tempat yang representative sehingga bagi kalangan menengah ke atas tidak sungkan untuk datang menikmatinya. 

Bila melihat menu yang disajikan di rumah makan Mbah Jingkrak, memang terasa tidak asing lagi. Karena semua bisa ditemukan di warung-warung makan lain. Hanya saja yang membuat berbeda, Ajeng menamakan beberapa menunya dengan nama yang nyleneh seperti pitik rambut syetan, sambel syetan, sambel iblis, es tobat, dll. Sambel iblis, sebenarnya hanya sambel biasa tapi dibuat dari cabe rawit, yang terasa pedas sekali. Siapa pun yang menikmati tentu akan merasa kepedasan. Penamaan menu-menu aneh tersebut, memang menjadi strategi promosi untuk membuat konsumen penasaran. Dan strateginya memang membuahkan hasil , karena setiap muncul menu baru selalu ada yang merasa penasaran dan ngin mencobanya. “Biasanya setelah mencoba mereka akan ketagihan, nah membuat orang ketagihan ini yang sulit,” paparnya. 

Pernyataan Ajeng, memang tidak berlebihan. Nyatanya, dengan  nama-nama menu yang terkesan “sangar” tersebut, ternyata telah mengangkat citra Rm Mbah Jingkrak, hingga cepat dikenal masyarakat. “Kami memang sengaja membuat menu aneh yang bikin penasaran konsumen,”  katanya lagi. 

Nama Mbah Jingkrak itu, sendiri menurut Ajeng  diperoleh secara tidak sengaja. Itu terjadi ketika dia bersama sang suami, Henry Pramono hendak pergi ke sebuah desa di Kecamatan Munggi, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Di desa itu ada sebuah warung makan yang sangat terkenal karena menyajikan menu nasi beras merah dan sayur lombok tempe. Dalam  perjalanan tersebut, Ajeng tidak ingat nama rumah makan yang akan ditujunya. Tiba-tiba sang suami nyebut nama “Mbah Jingkrak”, padahal yang dimaksud adalah desa Jirak. “Saya mendadak punya inspirasi untuk menamakan Mbah Jingkrak menyadi nama rumah makan, ini kayaknya pas sekali,” tutur Ajeng. 

Sejak itulah, ia merasa mantap menggunakan nama Mbah Jingkrak di rumah makan yang kemudian dibukanya di Semarang hanya beberapa hari sepulang dia menyempatkan makan di Gunungkidul. Nama ini sangat cocok karena dalam bahasa Jawa, jingkrak berarti melompat-lompat karena kegirangan. 

Masih menurut Ajeng, untuk mendirikan rumah makan tersebut, ia hanya mengggunakan modal Rp 40 juta. Modal ini digunakan untuk penyiapan alat dan promosi. Tanpa dinyana modal sebanyak itu ternyata langsung balik dalam tempo tidak sampai satu bulan. “Padahal perhitungan saya, modal paling tidak baru bisa balik selama tiga bulan,” ujarnya. 

Tidak mengejutkan bila, dalam tempo singkat Ajeng berhasil mengembangkan Mbah Jingkrak. Maklum ia memang sudah paham betul strategi apa yang harus dilakukannya, salah satunya adalah strategi promosi. Ketika pertama buka, ia langsung memblow up promosi lewat media lokal dan menghubungi semua relasi bisnis yang telah dimilikinya. 

Bagi Ajeng, menjalankan bisnis rumah makan agaknya sudah menjadi jalan hidupnya. Ia kini bisa dibilang meraih kesuksesan hidupnya karena bisnis jasa boga yang digelutinya. Saat ini Ajeng tercatat mengelola dua rumah makan, Ben Tuman dan Mbah Jingkrak. Keduanya berlokasi di tempat yang sama.  

Sekedar informasi, sebelum sukses menggeluti bisnis resto, Ajeng tercatat sebagai karyawan sebuah perusahaan garmen di Semarang. Tekad untuk pindah kuadran menjadi pengusaha memang sudah bulat. Itu karena kondisi ekonomi yang mendorong semangat berbisnisnya bangkit. “Bayangkan mas saya harus menanggung tiga anak, sementara saya single parent,” tutur wanita bertubuh kuning langsat ini. 

Restoran Ben Tuman yang secara khusus menyediakan menu steak dirintisnya sejak 1997 silam. Modal awalnya hanya Rp 14 juta yang digunakan untuk sewa tempat dan persiapan peralatan produksi. Ia mengaku tertarik membuka warung steak setelah melihat bisnis makanan asal Eropa ini cukup digemari dan menjadi trend bisnis di kota Jakarta dan Bandung. “Saya memang suka masak dan mencoba makanan apa saja ,” jelasnya. 

Ben Tuman bisa dibilang pelopor bisnis steak di Semarang. Ketika itu, Ajeng juga sudah menggunakan nama menu yang aneh seperti, Sapi bingung dan ayam linglung. “Ternyata menu yang aneh bisa menjadi daya tarik tersendiri untuk membuat orang penasaran,” katanya. 

Ia mengawali usaha di kawasan Jl Kiai Saleh dengan mengontrak tanah seluas 100 meter persegi. Modal awalnya hanya Rp 14 juta yang merupakan uang tabungan. Bisnis berkembang bagus, sehingga tak mengherankan bila dalam tempo singkat, modalnya segera kembali dan ia membuka cabang lagi di tempat lain. Bahkan dalam perjalanannya, ia berhasil mengembangkan modal sebanyak itu menjadi asset ratusan juta dalam tempo tiga tahun. Ini terbukti dengan keberhasilannya membeli  tanah sendiri yang digunakannya membuka cabang baru senilai Rp 750- juta. 

Awalnya, Ajeng mencoba membidik pasar mahasiswa. Tentu saja, steak yang dijualnya telah melewati proses modifikasi baik dari rasa maupun harga. Ia meramu bumbu sendiri dan membuat harga yang terjangkau untuk kalangan mahasiswa. “Ternyata banyak lidah orang Semarang yang juga gemar dengan steak,” katanya. 

Dalam perjalanannya, ternyata yang datang ke Ben Tuman justru berasal dari kalangan menengah ke atas. Padahal semula, ia tidak membidik pasar ini secara khusus. Yang diinginkannya justru pasar dari kalangan menengah ke bawah. “Tapi yang datang ternyata mereka yang bermobil dan kini justru malah anak-anak orang kaya,” tukasnya. 

Menurut Ajeng bisnis makanan di Semarang terbilang tidak gampang. Sekali salah melangkah, katanya, bisnis bisa hancur. Karena itulah, sebelum memulai bisnis ini, pengetahuan tentang karakter masyarakat mutlak dikuasai.” Kebetulan saya orang Semarang, jadi sudah paham dengan keinginan mereka,” katanya. 

Sejak awal, Ajeng memang berusaha menjual steak tersebut dengan harga yang bisa dijangkau masyarakat dan terbilang  murah. Ia menyediakan menu antara Rp 12.750 hingga Rp 30.000-an. “Harga ini murah dibandingkan dengan harga di restoran besar,” ungkapnya. 

Untuk penamaan menu, Ajeng juga menggunakan nama yang aneh-aneh, seperti Merapi Meletus Sapi Bingung Steak, Ayam Mabuk Steak, Ben Tuman Spesial Steak, dan Aborigin Beef Steak. Pemberian nama ini, terkesan asal comot, tapi ternyata sangat menguntungkan. Karena membuat konsumen tersenyum bila membaca, paling tidak mereka bisa terkesan dibuatnya. Nama merapi meletus  terinspirasi oleh letusan Gunung Merapi yang melontarkan batu-batuan. Hujan abunya menyebar ke daerah sekitar. 

"Batu-batuan dari Gunung Merapi itu saya ibaratkan kentang yang dibungkus dengan alumunium foil. Makanya, (daging) sapinya bingung, kok ada kentang dibungkus kertas. Di sekelilingnya terdapat sayur wortel, buncis, dan saus yang seperti meleleh," katanya sambil tertawa. 

Secara ekonomi, Ajeng memang sudah terbilang sukses. Yang menarik, ia kini sering diundang ke beberapa forum pelatihan kewirausahaan untuk menjadi nara sumber. Keberhasilannya mengelola kedua rumah makan tersebut, kayaknya memang patut ditularkan kepada calon pebisns lain untuk menirunya.”Dengan senang hati, kami menularkan ilmu agar mereka bisa mengikuti jejak kami,” tuturnya. 

Ajeng tidak hanya mengembangkan bisnis di Semarang,.Ia telah melebarkan sayap ke Jakarta. Ben Tuman dan Mbah Jingkrak sudah merambah ke ibukota Negara ini dengan cara waralaba. “Kebetulan ada kawan-kawan yang tertarik, karena itulah saya mencoba mengembangkan dengan cara waralaba,” imbuhnya. 

Saat ini, Ajeng menjual waralaba untuk Ben Tuman sebesar Rp 150 juta. Sedangkan untuk Mbah Jingkrak, hanya sebesar Rp 50 juta.” Yang minta untuk membuka sudah banyak, kami masih mengkaji kelayakannya,” tuturnya. (Haris RK )

Tidak ada komentar